Analisa Saham BBCA Yuk! Kok Bisa Jadi Kepercayaan Investor?

Hampir semua orang terutama di perkotaan punya ATM BCA. Jadi BCA adalah salah satu bank dengan jaringan terbesar.

Meskipun biaya investasi ATM tidak murah, tetapi sebelum bank lain memutuskan membuat jaringan ATM, BCA berani memulai. Ada tujuan strategis  membangun jaringan ATM.

Sumber dana murah perbankan adalah dari tabungan dan giro. Deposito mahal. Dan cara mengumpulkan tabungan paling efektif dengan punya jaringan ATM sehingga orang mau menempatkan uangnya bukan karena bunga tetapi karena layanan.

BCA awalnya adalah milik konglomerat Liem Sioe Liong, orang terkaya di Indonesia pada masanya, pemilik perusahaan Indofood. Namun, karena krisis 1998, BCA diambil alih Pemerintah Indonesia, yang kemudian menjualnya melalui lelang ke Djarum Group – orang terkaya di Indonesia saat ini.

Di jaman pemilik Djarum Group, BCA tumbuh menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dan emiten saham dengan kapitalisasi pasar terbesar BEI.

Pada kuartal I 2020, BCA mencatat laba bersih Rp 6.5 Tr naik 8% dibandingkan periode yang saham 2019. Naiknya profit sebuah prestasi di tengah kondisi wabah Covid-19.

Meskipun Covid-19 berdampak secara cukup signifikan terhadap industri perbankan, tetapi kinerja BBCA masih cukup solid. Imbasnya ada ke BCA tetapi tidak terlampau signifikan. Yuk bahas lebih detail!

1.Pertumbuhan Kredit

Pertumbuhan Kredit

Kredit adalah jantung bisnis perbankan. Jika tidak memberikan kredit, bank tidak bisa mencetak keuntungan karena bunga harus dihasilkan dari kredit yang diberikan. Oleh karena itu, indikator utama bisnis bank adalah pertumbuhan kredit.

BCA mencatat kenaikkan pinjaman 12.3% dibandingkan kuartal I 2019, angka ini jauh diatas industri perbankan yang pada periode sama tumbuh 5.9%.

Yang lebih bagus lagi, dari akhir 2019 sampai Maret 2020 BCA masih mencatat kenaikkan kredit 1.4%, sementara banyak bank turun kreditnya. Di periode ini, industri perbankan minus 1.4% pertumbuhan kredit akibat hantaman pandemi Covid-19.

Pertumbuhan kredit BCA di dorong satu sektor, yaitu kredit korporasi, sementara kredit konsumsi dan UMKM semuanya minus.

BCA memang dikenal sebagai bank yang kuat di sektor korporasi, menyumbang 40%+ dari komposisi total pinjaman.

Kredit korporasi bersumber dari proyek – proyek infrastruktur yang sedikit banyak tidak terlalu terdampak Covid dibandingkan kredit usaha SME, kecil menengah dan kredit konsumsi seperti KPR dan Kendaraan.

2.Pendanaan LDR

Pendanaan LDR

Kredit, yang merupakan jantung perbankan, akan tumbuh dengan baik jika didukung pendanaan yang mencukupi. Tanpa adanya simpanan masyarakat, dana pihak ketiga, bank tidak punya uang untuk menyalurkan pinjaman.

Untuk mengukur ketersediaan pendanaan, indikatornya adalah Loan Deposit Ratio (LDR) – perbandingkan kredit dengan simpanan.

LDR BCA di Maret 2020 adalah 77.6% sedikit turun dari LDR 80% di akhir 2019. Penurunan LDR mengindikasikan pertumbuhan jumlah kredit tidak sebesar jumlah penempatan dana pihak ketiga. Dan itu artinya BCA punya persediaan likuiditas tinggi.

LDR yang turun kurang baik dari sisi profitability karena berarti banyak dana menganggur yang tidak disalurkan menjadi kredit, sementara bank harus membayar bunga tabungan.

Namun, keunggulan BCA adalah mayoritas dana pihak ketiga (70%+) adalah dana murah dari CASA – Current Account dan Saving Account (Giro dan Tabungan). Anda bisa cek ke bank BCA berapa bunga tabungan dan rekening giro, sangat rendah sekali.

Jadi, meskipun LDR menurun, tetapi karena biaya bunga dana yang murah, tidak signifikan mempengaruhi laba, sementara itu ketersediaan likuiditas yang besar membuat BCA lebih siap menghadapi krisis ekonomi.

3. Net Interest Margin (NIM)

Net Interest Margin (NIM)

Apakah BCA bisa mendapatkan margin menguntungkan dari setiap pinjaman yang disalurkan?  Untuk mengukur margin bunga, kita melihat NIM (Net Interest Margin) – selisih antara bunga kredit dan bunga simpanan (cost of fund).

NIM BCA adalah 6.10% di akhir Maret 2020 dari 6.20% di kuartal I 2019. Diantara top-10 banks di Indonesia, NIM BCA termasuk paling stabil, meskipun trend di industri perbankan di sepanjang 2019 dan awal 2020 adalah penurunan bunga kredit karena Bank Indonesia terus menurunkan SBI.

NIM BCA yang cukup stabil didukung oleh stabilnya cost of fund dari dana pihak ketiga yang berbiaya murah.

NIM menjadi faktor penting penggerak laba bersih karena sumber utama keuntungan bank dari penyaluran kredit.

Gimana? Tertarik berinvestasi di BBCA?

Analisa Saham BBCA Yuk! Kok Bisa Jadi Kepercayaan Investor?
Ditag di: