Rekomendasi Para Analis Untuk Saham UNVR

PT Unilever Indonesia Tbk membukukan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang enam bulan pertama tahun 2021.

Emiten dengan kode UNVR itu mencetak penurunan dari sisi penjualan bersih maupun laba.  Mengutip laporan keuangan, penjualan bersih UNVR pada semeseter I 2021 melorot 7,33% year on year (yoy) menjadi Rp 20,18 triliun.

Padahal pada periode yang sama tahun 2020, penjualan bersihnya tercatat Rp 21,77 triliun. Harga saham PT Uniliver Tbk terus mengalami penurunan pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia atau BEI.

Walaupun pada perdagangan sesi I hari ini, Rabu 25 Agustus 2021 UNVR menguat 1,47 persen di level Rp 4.140 per saham, namun dalam sebulan sudah mengalami penurunan 11,9 persen dan secara tahunan turun 43,67 persen.

Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengatakan, penurunan saham Unilever terjadi karena emiten sektor konsumer menghadapi persaingan yang cukup ketat dengan berbagai merek. Penerapan PPKM juga mempengaruhi penjualan UNVR.

“Kita sih belum merekomendasikan untuk menambah investasi di UNVR. Karena kelihatannya result kuartal III juga kemungkinan kurang bagus, jadi mungkin harga sahamnya juga agak kurang katalis ya. Saat ini rekomendasi kita masih HOLD dgn target harga di 4.500,” sebut Natalia kepada, Rabu 25 Agustus 2021.

Sementara Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adie Joe menyebutkan, fundamental UNVR cenderung mengalami stagnasi sehingga sahamnya terus mengalami penurunan.

“Jadi, mau ekspor juga kan di luar negeri sudah ada Unilever juga seperti di Singapura atau di Australia misalnya. Jadi market di Indonesia sudah tidak berkembang lagi, dan ini yang membuat harga saham UNVR enggak bisa naik,” kata Kiswoyo, Selasa 24 Agustus 2021.

Adapun Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam risetnya mengatakan, saham UNVR masih dalam tren bearish. Nico menyebutkan, UNVR masih memiliki potensi penguatan, namun dalam jangka panjang.

“Ya betul (dalam trend bearish), tapi bener-bener jangka panjang ya. Jangan mengharapkan bisa naik dalam kurun waktu 6 bulan,” ucap Nico.

Kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh masih mendominasi penjualan dengan kontribusi mencapai Rp 12,49 triliun.

Akan tetapi, capaian ini lebih rendah 10,71% dibanding semester I tahun lalu.  Sementara itu, penjualan makanan dan minuman dibukukan Rp 6,69 triliun sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Adapun kontribusi makanan dan minuman ini naik tipis 0,33% yoy dari Rp 6,66 triliun.

Lesunya penjualan bersih UNVR turut menyeret labanya. Tercatat, laba UNVR tertekan hingga dua digit, tepatnya 15,85% yoy menjadi Rp 3,05 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, UNVR bisa membukukan laba hingga Rp 3,62 triliun.

Rekomendasi Para Analis Untuk Saham UNVR
Ditag di: