Sinyal ‘Horor’ Tapering November, Hati – Hati!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di perdagangan pada hari Kamis 23 September 2021 diperkirakan akan memberikan peluang untuk menanjak namun tetap harus diperhatikan bahwa penguatan ini sifatnya masih terbatas.

Para Investor masih memberikan kecermatan sentiment melalui perusahaan property China, Evergrande. Selain itu tapering atau kebijakan pengurangan pembelian aset dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, juga masih membayang – bayangi para investor. Sedangkan pada perdagangan di hari kemarin, Rabu 22 September 2021, IHSG ditutup menguat 0,78% ke level 6.108,27.

Menurut Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG akan mengalami Rebound. Pergerakan IHSG diperkirakan akan mendapatkan rebound sejak dari posisi level support atau batas bawahnya sekarang ini. Investor juga masih harus memberikan antisipasi atas pergerakan indeks di kisaran 6.030-6.160. Saham pilihan:

  • AGII
  • TBIG
  • ARTO

Lalu Menurut Reliance Sekuritas Indonesia IHSG juga memiliki peluang untuk menjadi lebih kuat. Jika dilihat dari teknikalnya, IHSG bergerak secara whipsaw di level support MA200 serta memiliki potensi untuk menguat lagi menguji resistance fractal dan upper bollinger bands. Indikator Stochastic serta RSI juga masih memberikan momentum bearish yang lebih dahulu mengkonfirmasi dead-cross pada area overbought atau jenuh beli, sehingga peluang penguatan IHSG masih terbuka tap masih terbatas. Saham pilihan:

  • AALI
  • ACES
  • ANTM
  • BBNI

Sedangkan menurut Artha Sekuritas, Sentimen Evergrande sekarang ini mulai meredup. IHSG juga diberikan prediksi akan lebih kuta. Secara teknikal candlestick membentuk higher high dan higher low yang memberikan indikasi bahwa ada potensi menguat dalam jangka pendek.

Tapi, penguatan ini diperkirakan hanya akan memiliki sifat sementara saja karena Pergerakan pasar saham masih dibayangi kekhawatiran akibat rencana tapering The Fed serta akan memberikan pengaruh kepada keputusan suku bunga The Fed. Kekhawatiran mengenai kasus gagal bayar Evergrande juga lebih memudar.

Pelaku pasar saat ini memang menanti pengumuman kebijakan moneter The Fed Kamis 23 September dini hari tadi. Bank sentral pimpinan Jerome Powell itu memberikan indikasi bahwa tapering akan segera dilakukan. Walau begitu, namun sinyal itu masih tetap sesuai dengan prediksi di pasar dimana tapering akan diumumkan dibulan November, dan pertama kali dilakukan di bulan Desember.

“Jika semua kemajuan terus sesuai dengan ekspektasi, anggota Komite menilai pengurangan nilai pembelian aset bisa segera dilakukan,” tulis pernyataan The Fed.

Saham pilihan:

  • WIKA
  • PGAS
  • BBCA
  • MARI

“Jika semua kemajuan terus sesuai dengan ekspektasi, anggota Komite menilai pengurangan nilai pembelian aset bisa segera dilakukan,” tulis pernyataan The Fed. Indeks dolar AS yang tadinya melemah lalu secara langsung balik menjadi kuat sebesar 0,28% sejak pengumuman itu.

Powell dalam konferensi persnya anggota Komite (Federal Open Market Committee/FOMC) juga mengaku sudah siap untuk melakukan tapering, walaupun sekarang ini masih belum punya keputusan.

“Saat ini belum ada keputusan (kapan tapering dilakukan), anggota FOMC umumnya melihat selama pemulihan ekonomi berada pada jalurnya, tapering secara bertahap bisa dilakukan dan akan selesai pada pertengahan tahun depan,” kata Powell.

The Fed yang belum mengumumkan tapering dini hari tadi dianggap dovish dari beberapa pelaku pasar, jadi rupiah masih bisa membendung penguatan dolar AS.

“Pengumuman tapering kemungkinan akan dilakukan pada November, fakta bahwa mereka tidak melakukan hari ini menunjukkan FOMC masih dovish,” kata Peter Boockvarm kepala investasi di Belakley Advisory Group.

Sinyal ‘Horor’ Tapering November, Hati – Hati!